Budaya

Lagu Penuh Luka dan Harapan: “Diary Depresiku” dari Last Child

Lagu “Diary Depresiku” merupakan salah satu karya paling emosional dari band pop punk/rock alternatif asal Indonesia, Last Child. Lagu ini menjadi singel utama dalam album perdana mereka yang bertajuk Grow Up, yang dirilis pada tahun 2007 di bawah label Crazy Monkey. Album ini memuat sebelas lagu yang mencerminkan kisah kehidupan yang keras dan penuh perjuangan.

Last Child sendiri terbentuk pada 11 Januari 2006 dan hingga kini terdiri dari empat anggota: Virgoun sebagai vokalis utama, Mamie sebagai gitaris, Dimas pada posisi bass, dan Ipank sebagai drummer. Gaya musik mereka dikenal dengan perpaduan melodi yang kuat dan lirik yang menyentuh sisi emosional para pendengarnya.

Dalam lagu “Diary Depresiku”, Last Child menyuarakan perasaan terluka yang mendalam akibat pengalaman pahit di masa lalu. Lagu ini dibuka dengan suasana hujan malam yang membawa kembali kenangan menyakitkan, luka yang tidak mudah sembuh, dan harapan agar semua itu tidak pernah terjadi. Liriknya menggambarkan trauma emosional dari peristiwa masa kecil, seperti perpisahan orang tua yang menghancurkan kebahagiaan sederhana dalam keluarga.

Bagian lirik yang menyentuh adalah ketika sang vokalis mengenang saat ayahnya pergi, dan keluarga mereka mulai kelaparan. Ini adalah gambaran nyata dari kerasnya hidup di jalanan saat seseorang belum benar-benar memahami arti dari perceraian. Last Child menggambarkan bagaimana hal-hal indah yang dulu dimiliki bisa hilang begitu saja.

Refrain lagu ini mengekspresikan rasa iri terhadap mereka yang hidup dalam kebahagiaan keluarga yang utuh dan harmonis. Sang penyanyi merasa tak memiliki harga diri, hanya berusaha bertahan hidup di tengah kehidupan yang suram. Perbandingan antara kehidupan ideal dan realitas yang pahit menjadi sorotan utama dalam lagu ini.

Di bagian bridge, lirik semakin gelap. Penyanyi mencoba melupakan rasa sakit dengan alkohol dan bahkan menyiratkan tindakan menyakiti diri sendiri. Ini menjadi refleksi nyata dari kondisi mental yang terguncang. Namun, saat sadar kembali dari mabuk, rasa sakit justru terasa lebih dalam. Pada titik ini, lagu menggambarkan betapa seseorang sangat menginginkan cinta, sebuah perasaan yang belum pernah benar-benar ia rasakan sejak menjalani hidup di jalanan.

Kekuatan dari “Diary Depresiku” terletak pada kejujuran liriknya. Lagu ini tidak hanya bercerita tentang penderitaan, tetapi juga tentang keteguhan hati untuk terus bertahan, meski harga diri telah terkikis. Pengulangan pada bagian akhir lirik yang menyatakan “tiada harga diri agar hidupku terus bertahan” menjadi seruan dari hati yang lelah namun tetap hidup.

Secara keseluruhan, “Diary Depresiku” bukan hanya lagu, tapi juga potret nyata dari kehidupan seseorang yang tumbuh dalam kondisi sulit, namun tetap berusaha menemukan harapan. Last Child melalui lagu ini berhasil menyampaikan pesan kuat tentang luka batin, kerinduan akan kasih sayang, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Lagu ini menyentuh banyak pendengar yang mungkin mengalami hal serupa, dan menjadi bentuk solidaritas emosional dari mereka yang merasa terpinggirkan.